Articles by "Hadits"


Hadits-Hadits Shahih Tentang Sedekah

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(ما أطعمت زوجتك فهو لك صدقة، وما أطعمت ولدك فهو لك صدقة، وما أطعمت خادمك فهو لك صدقة، وما أطعمت نفسك فهو لك صدقة) صحيح أحمد والطبراني.

Rasulullah Saw bersabda:
“Makanan yang engkau berikan kepada istrimu adalah sedekah bagimu, makanan yang engkau berikan kepada anakmu adalah sedekah bagimu, makanan yang engkau berikan kepada pembantumu adalah sedekah bagimu dan makanan yang engkau berikan kepada dirimu sendiri adalah sedekah bagimu”.
(HR. Ahmad dan ath-Thabrani).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(نفقة الرجل على أهله صدقة) صحيح بخاري والترمذي.
Rasulullah Saw bersabda:
“Nafkah yang diberikan seorang laki-laki kepada keluarganya adalah sedekah”.
(HR. Al-Bukhari dan at-Tirmidzi).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(صدقة السر تطفئ غضب الرب، وصلة الرحم تزيد في العمر، وفعل المعروف يقي مصارع السوء) صحيح البيهقي.
Rasulullah Saw bersabda:
“Sedekah yang diberikan secara diam-diam dapat memadamkan murka Allah, silaturahim menambah usia dan perbuatan baik dapat menjaga dari kematian yang jelek”.
(HR. Al-Baihaqi).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(من أنظر معسراً، فله كل يوم صدقة قبل أن يحل الدين، فإذا أحل الدين فأنظره بعد ذلك فله كل يوم مثلين صدقة) صحيح الحاكم.

Rasulullah Saw bersabda:
“Siapa yang (bersabar) menunggu orang yang kesulitan (membayar hutang), maka baginya sedekah satiap hari, hinga hutang itu dibayar. Jika ia menunda pembayarannya, ia (bersabar) menunggunya, maka baginya dua kali sedekah setiap hari”.
(HR. Al-Hakim).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(ثلاث أقسم عليهن، ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح رجل على نفسه باب مسألة يسأل الناس إلا فتح الله عليه باب فقر) صحيح أحمد والبزار.
Rasulullah Saw bersabda:
“Aku bersumpah demi tiga perkara: harta tidak akan berkurang karena sedekah, maka bersedekahlah kamu. Seseorang yang memaafkan orang lain karena suatu perbuatan zalim, maka Allah pasti memuliakannya. Maka maafkanlah (orang yang berbuat zalim), maka Allah pasti menambahkan kemuliaan. Seseorang yang meminta-minta kepada orang lain, maka Allah pasti akan membukakan pintu kefakiran kepadanya”.
(HR. Ahmad dan al-Bazzar).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - (إن مما يلحق المؤمن من عمله وحسناتهِ بعد موته، علماً علمهُ ونشرهُ، أو ولداً صالحاً تركه، أو مصحفاً ورثهُ، أو مسجداً بناهُ، أو بيتاً بناه لابن السبيل، أو نهراً أجراهُ، أو صدقة أخرجها من ماله في صحته وحياتهِ تلحقه من بعد موتهِ) حسن (ابن ماجه وابن خزيمة والبيهقي).

Rasulullah Saw bersabda:
“Yang menyertai orang mukmin dari amal kebaikannya setelah kematiannya adalah: ilmu yang pernah ia ajarkan dan ia sebarkan, atau anak shaleh yang ia tinggalkan, atau mushaf (al-Qur’an) yang ia wariskan, atau masjid yang telah ia bangun, atau rumah yang pernah ia bangun untuk Ibnu Sabil, atau sungai (aliran air) yang pernah ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan dalam kehidupannya, maka akan menyertainya setelah kematiannya”. [Hadits Hasan].
(HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(ما من مسلم يغرس غرساً أو يزرع زرعاً فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقةٌ) بخاري ومسلم والترمذي.

Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap muslim yang menanam tanaman, lalu dimakan burung atau manusia atau binatang, maka itu menjadi sedekah baginya”.
(HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(صنائع المعروف تقي مصارع السوء والصدقة خفيا تطفئ غضب الرب، وصلةُ الرحم زيادة في العمر، وكل معروف صدقة، وأهل المعروف في الدنيا هم أهل المعروف في الآخرة، وأهل المنكر في الدنيا هم أهل المنكر في الآخرة) صحيح (طبراني في الأوسط عن أم سلمة).

Rasulullah Saw bersabda:
“Orang-orang yang berbuat kebaikan dipelihara dari kematian yang jelek. Sedekah secara rahasia memadamkan murka Allah. Silaturahim menambah usia. Semua perbuatan baik itu adalah sedekah. Orang yang berbuat baik di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik di akhirat. Orang-orang yang melakukan perbuatan munkar di dunia, mereka adalah orang-orang munkar di akhirat”.
(HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath).

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم –
(أفضل الصدقة: الصدقة على ذي الرحم الكاشح) صحيح ابن خزيمة والطبراني

Rasulullah Saw bersabda:
“Sedekah yang paling afdhal adalah sedekah yang diberikan kepada kerabat yang menyembunyikan permusuhannya”.
(HR. Ibnu Khuzaimah dan ath-Thabrani).

عن أبي ذر جُنْدبِ بنِ جُنَادَةَ - رضي الله عنه - ، قَالَ: قُلْتُ : يَا رسولَ الله، أيُّ الأعمالِ أفْضَلُ ؟ قَالَ : (( الإيمانُ باللهِ وَالجِهادُ في سَبيلِهِ )) . قُلْتُ : أيُّ الرِّقَابِ أفْضَلُ ؟ قَالَ : (( أنْفَسُهَا عِنْدَ أهلِهَا وَأكثَرهَا ثَمَناً )) . قُلْتُ : فإنْ لَمْ أفْعَلْ ؟ قَالَ : (( تُعِينُ صَانِعاً أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ )) . قُلْتُ : يَا رَسُول الله ، أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ : (( تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ ؛ فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ )) مُتَّفَقٌ عليه .
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah, ia berkata: “Saya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah amal yang paling afdhal?”.
Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad fi sabilillah”.
Saya bertanya, “Memerdekakan hamba sahaya yang bagaimanakah yang paling afdhal?”.
Beliau menjawab, “Hamba sahaya yang paling berharga diantara keluarganya dan paling mahal harganya”.
Saya bertanya, “Jika saya tidak melakukannya?”.
Rasulullah Saw berkata, “Engkau bantu orang lain yang melakukannya atau engkau lakukan tolong orang yang tidak memiliki pekerjaan”.
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukannya?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Engkau tahan perbuatan jelekmu terhadap orang lain, maka sesungguhnya itu sedekah bagimu untuk dirimu sendiri”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

عن أبي ذر أيضاً - رضي الله عنه - : أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( يُصْبحُ عَلَى كُلِّ سُلامَى منْ أَحَدِكُمْ صَدَقةٌ : فَكُلُّ تَسبيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحمِيدةٍ صَدَقَة ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكبيرَةٍ صَدَقَةٌ ، وَأمْرٌ بِالمعرُوفِ صَدَقةٌ ، ونَهيٌ عَنِ المُنْكَرِ صَدَقةٌ ، وَيُجزِىءُ مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَركَعُهُما مِنَ الضُّحَى )) رواه مسلم .

Dari Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Setiap (perbuatan baik) tulang-tulang persendian kamu adalah sedekah, semua tasbih (ucapan: Subhanallah) adalah sedekah, semua tahmid (ucapan: alhamdulillah) adalah sedekah, semua tahlil (ucapan: La ilaha illallah) adalah sedekah, semua takbir (ucapan: Allahu Akbar) adalah sedekah, amar ma’ruf (mengajak orang lain berbuat baik) adalah sedekah, nahi munkar (melarang orang lain berbuat munkar) adalah sedekah. Semua itu sama dengan dua rakaat shalat Dhuha”. (HR. Muslim).

عن أبي هريرةَ - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - :
(( كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيهِ صَدَقَةٌ ، كُلَّ يَومٍ تَطلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَينَ الاثْنَينِ صَدَقةٌ ، وتُعِينُ الرَّجُلَ في دَابَّتِهِ ، فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالكَلِمَةُ الطَيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وبكلِّ خَطْوَةٍ تَمشيهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدَقَةٌ ، وتُميطُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ صَدَقَةٌ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap (perbuatan baik) tulang-tulang persendian manusia adalah sedekah, setiap hari matahari terbit: engkau damaikan antara dua orang, maka itu adalah sedekah, engkau bantu orang lain pada hewan tunggangannya, engkau bantu ia naik keatasnya, atau engkau angkatkan barang-baragnya, maka itu adalah sedekah. Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau langkahkan untuk shalat adalah sedekah. Engkau buang sesuatu yang mengganggu dari jalan, maka itu adalah sedekah”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

عن أَبي موسى - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ،
قَالَ :(( عَلَى كلّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ ))
قَالَ : أرأيتَ إنْ لَمْ يَجِدْ ؟
قَالَ : (( يَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ ))
قَالَ : أرأيتَ إن لَمْ يَسْتَطِعْ ؟
قَالَ : (( يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ))
قَالَ : أرأيتَ إنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ،
قَالَ : (( يَأمُرُ بِالمعْرُوفِ أوِ الخَيْرِ ))
قَالَ : أرَأيْتَ إنْ لَمْ يَفْعَلْ ؟
قَالَ : (( يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ ))

Dari Abu Musa, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Setiap muslim wajib bersedekah”.
Abu Musa bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Ia bekerja dengan kedua tangannya, lalu mendatangkan manfaat bagi dirinya, maka berarti ia telah bersedekah”.
“Bagaimana jika ia tidak mampu?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Ia tolong orang lain yang membutuhkan dan dalam kesulitan atau teraniaya”.
“Jika ia tidak mampu?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Ia ajak orang lain berbuat baik”.
“Jika ia tidak mampu?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Ia tahan dirinya untuk tidak melakukan perbuatan jahat kepada orang lain, maka itu sedekah baginya”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

وعن أَبي مسعود البدري - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ :
(( إِذَا أنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Dari Abu Mas’ud al-Badri, dari Rasulullah Saw:
“Apabila seseorang memberikan nafkah kepada keluarganya, ia ikhlas hanya karena Allah, maka itu sedekah baginya”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

وعن سلمان بن عامر - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ ؛ فَإنَّهُ بَرَكةٌ ، فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً ، فالمَاءُ ؛ فَإنَّهُ طَهُورٌ )) ، وَقالَ : (( الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ )) رواه الترمذي ، وَقالَ : (( حديث حسن )) .

Dari Salman bin ‘Amir, dari Rasulullah Saw:
“Apabila salah seorang kamu berbuka, maka berbukalah dengan kurma, karena sesunggunya itu berkah. Jika ia tidak mendapatkan kurma, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci. Sedekah kepada orang miskin itu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat itu bernilai dua; sedekah dan menjalin tali silaturahim”.
(HR. At-Tirmidzi) [Hadits Hasan].

Semoga ada manfaatnya, amin.
Subuh Senin, 21 Sya’ban 1431H / 02 Agustus 2010M.
Diterjemahkan oleh: H. Abdul Somad, Lc., MA.




Ada beberapa ungkapan yang familiar di telinga kita, sebagian orang menganggapnya hadits. Tapi para ahli hadits mengkritik ungkapan tersebut bersumber dari Rasulullah Saw. Diantaranya adalah:
Kenal Diri, Kenal Tuhan.
 Siapa yang mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.
Imam Ibnu Hajar al-Haitsami ditanya tentang hadits, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Siapakah yang meriwayatkannya? Imam Ibnu Hajar al-Haitsami menjawab, “Hadits ini tidak ada asalnya (tidak ada sanadnya). Diriwayatkan dari ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi ash-Shufi. Maknanya, “Siapa yang mengetahui bahwa dirinya lemah, butuh, kurang, hina dan rapuh. Maka ia telah mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan dan keindahan serta sifat yang layak bagi keduanya (agung dan mulia). Maka ia terus merasa diperhatikan Allah Swt (muraqabatullah) hingga Allah Swt membukakan baginya pintu musyahadah, maka hamba itu pun menjadi salah satu dari orang-orang pilihan yang Ia berikan kepada mereka ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah Swt). Ia pakaikan kepada mereka pakaian kesucian khalifah-Nya”. (Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawa al-Haditsiyyah, hal.206).
Imam as-Suyuthi berkata, Riwayat ini tidak shahih. Imam an-Nawawi pernah ditanya tentang hadits ini dalam fatwanya, beliau menjawab, “Tidak kuat”. Ibnu Taimiah dan az-Zarkasyi berkata dalam kumpulan hadits populer, “Ibnu as-Sam’ani menyebutkan bahwa ini ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi”. (Imam as-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawa, juz.III, hal.355).
Makna hadits ini menurut Imam Abu Thalib al-Makki dalam kitab Qut al-Qulub, maknanya, “Jika engkau telah mengetahui sifat-sifat dirimu dalam berinteraksi dengan makhluk, engkau tidak suka ditolak dalam hal perbuatanmu, engkau tidak suka dicela atas apa yang engkau lakukan. Maka dari itu engkau pun mengetahui sifat Tuhanmu, Ia tidak juga tidak suka penolakan dan celaan, maka ridhalah dengan ketetapan-Nya, berinteraksilah dengan-Nya dengan cara yang engkau suka jika cara itu dipakai untuk beriteraksi denganmu”.
Makna hadits ini menurut Imam an-Nawawi, “Siapa yang telah mengetahui bahwa dirinya lemah, butuh dan menghambakan diri kepada Allah. Maka ia telah mengetahui bahwa Tuhannya itu kuat dan layak disembah serta sempurna secara mutlak dan memiliki sifat-sifat yang agung”.
Aku Ingin Dikenal.
 Aku adalah harta peninggalan yang tidak dikenal. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, lalu Aku buat mereka mengenal aku, maka mereka pun mengenal aku”.
Ibnu Taimiah berkata, “Bukan hadits nabi. Tidak diketahui ada sanadnya, apakah shahih atau pun dha’if”. Pendapat ini diikuti Imam az-Zarkasyi dan syekh kami (al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)”. (Imam as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir bin al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah,  hal.521)
Nur Muhammad Saw.
“Wahai Jabir, sesungguhnya sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, ia ciptakan nur nabimu dari nur-Nya. Ketika Allah ingin menciptakan makhluq, nur itu ia bagi menjadi empat: dari nur yang pertama ia ciptakan qalam. Dari nur yang kedua ia ciptakan Lauhul Mahfuzh. Dari nur yang ketiga ia ciptakan ‘Arsy. Kemudian nur yang keempat ia bagi menjadi beberapa bagian. Dari nur yang pertama ia ciptakan langit. Dari nur yang kedua ia ciptakan bumi. Dari nur yang ketiga ia ciptakan surga dan neraka. Kemudian nur yang keempat ia bagi menjadi empat. Dan seterusnya”.
Komentar ahli hadits terhadap hadits ini, Syekh Abu al-Faidh Ahmad al-Ghumari berkata dalam kitabnya berjudul al-Mughir ‘ala al-Ahadits al-Maudhu’ah fi al-Jami’ ash-Shaghir, “Hadits palsu. Andai disebutkan secara keseluruhan, orang yang melihatnya tidak akan ragu untuk mengatakan bahwa hadits ini palsu. Kelanjutan hadits ini lebih kurang dua halaman besar, berisi kata-kata yang rancu dan makna yang munkar”. Dijelaskan Syekh Rasyid Ridha dalam Fatwanya (2/447), bahwa hadits ini tidak ada asalnya (tidak ada sanadnya). Sebelum mereka, Imam as-Suyuthi pernah ditanya tentang hadits ini, seperti yang disebutkan dalam al-Hawy li al-Fatawa (1/323), ia berkata, “Hadits tentang pertanyaan Jabir, tidak ada sanadnya yang bisa dijadikan pegangan”.
Alam Semesta Karena Nabi Muhammad Saw.
“Kalaulah bukan karenamu (wahai Muhammad), tidak akan Aku ciptakan alam semesta”.
Komentar ulama ahli hadits tentang hadits ini, Imam al-‘Ajluni dalam kitab Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas ‘an ma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinati an-Nas menyebut hadits ini dan mengutip pendapat Imam ash-Shaghani, “Hadits Maudhu’ (palsu)”. Demikian juga dengan Imam asy-Syaukani dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, beliau kutip pendapat Imam ash-Shaghani, “Hadits Maudhu’ (palsu)”.
Nabi Adam as Ada Karena Nabi Muhammad Saw.
Kalau bukan karena Muhammad, aku tidak akan menciptakan Adam. Kalau bukan karena Muhammad, aku tidak menciptakan surga dan neraka”.
Komentar ahli hadits terhadap hadits ini, Imam adz-Dzahabi berkata, “Menurut saya ini hadits Maudhu’ (palsu) yang dinisbatkan kepada Sa’id”. Maksudnya adalah Sa’id bin Abi ‘Arubah (salah seorang periwayat hadits). Yang meriwayatkan hadits ini dari Sa’id adalah ‘Amr bin Aus al-Anshari, ia tertuduh sebagai pembuat hadits palsu. Disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam kitab Mizan al-I’tidal, ia berkata, “Amr bin Aus meriwayatkan khabar munkar”, kemudian beliau sebutkan hadits ini. Imam adz-Dzahabi berkata, “Menurut saya ini hadits palsu”. Disetujui oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana yang disebutkan dalam Lisan al-I’tidal.
Hadits Shahih Awal Penciptaan.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi dengan sanad shahih, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah Qalam (pena). Lalu Allah berfirman kepada Qalam, “Tulislah”. Qalam menjawab, “Wahai Tuhanku, apa yang akan aku tulis?”. Allah berfirman, “Tulislah ketetapan segala sesuatu hingga hari kiamat”.
Manusia itu Rahasia-Ku.
Manusia itu adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia”.
Dalam buku berjudul al-Ghautsiyah, ada yang menisbatkan buku ini kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, tapi penisbatan ini palsu. Dalam al-Ghautsiyyah disebutkan, “Allah berkata kepadaku, “Wahai wali Ghauts (penolong) yang agung. Aku jadikan manusia sebagai tempat-Ku. Manusia itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya. Kalaulah manusia mengetahui tempatnya di sisiku, pastikah setiap yang bernyawa akan berkata, “Siapakah yang memiliki kuasa hari ini?”. Manusia tidak akan makan, tidak akan minum, tidak akan berdiri, tidak akan duduk, tidak akan bicara, tidak akan diam, tidak melakukan suatu perbuatan, tidak menghadap sesuatu, tidak meninggalkan sesuatu, melainkan aku di dalam dirinya, saat ia diam atau bergerak. Tubuh manusia, hatinya dan ruhnya. Semua itu aku nyata baginya, jiwa dengan jiwa, tidak ada dia melainkan aku, tidak ada aku selainnya”. (al-Ghautsiyyah, hal.5).
Jelas kalimat ini mengandung makna bahwa tuhan bersatu dengan manusia. Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia. Keyakinan seperti ini berasal dari filsafat Yunani aliran Pantheism (aliran yang meyakini makhluk bersatu dengan tuhan), masuk ke Jawa dengan nama Manunggaling Kawula Gusti (tuhan menyatu dengan makhluk). Walisongo memancung kepala Siti Jenar karena aliran ini bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
Awal Agama, Mengenal Allah.
Teks yang berbunyi, “Awal agama adalah mengenal Allah”. Ini bukan hadits. Tapi ucapan Imam Ali dalam riwayat golongan Syi’ah. Dari Amirul Mu’minin Ali, “Awal agama adalah mengenal Allah. Sempurna pengenalannya adalah mempercayainya. Sempurna kepercayaan adalah mengesakannya. Sempurna keesaan adalah menafikan sifat darinya. Siapa yang mensifati Allah, berarti ia telah membandingkan Allah dengan yang lain. Siapa yang membandingkan Allah, berarti ia telah mengatakan tuhan itu dua. Siapa yang mengatakannya dua, maka ia telah membaginya. Siapa yang membaginya, maka ia tidak mengenalnya. Siapa yang tidak mengenalnya, maka ia menunjuknya. Siapa yang menunjuknya, maka telah memberi batasan terhadapnya. Siapa yang memberi batasan baginya, maka sungguh ia telah menghitungnya (berbilang)”. [‘Aqa’id al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyriyyah (‘Aqidah Syi’ah aliran Dua Belas Imam), hal.24].
Ini tidak benar ucapan Imam Ali. Riwayat ini untuk melawan al-Qur’an dan Sunnah yang menetapkan sifat-sifat bagi Allah Swt.
Semoga kita lebih selektif dalam menerima dan menyampaikan hadits, karena menisbatkan yang bukan hadits kepada Rasulullah Saw berarti telah menyiapkan tempat duduk dari api neraka. “Siapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduk dari api neraka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget